---
name: bahasa-inti
description: "Aturan inti menulis bahasa Indonesia yang bermutu, manusiawi, dan bebas AI slop. WAJIB dipakai setiap kali menulis, menyunting, atau menerjemahkan teks berbahasa Indonesia apa pun: artikel, caption, salinan situs, email, laporan, naskah, pesan, dokumentasi. Termasuk saat pengguna hanya berkata 'tulis dalam bahasa Indonesia', 'buatkan kontennya', 'perbaiki tulisan ini', 'bikin lebih natural', atau saat jawaban akan disampaikan dalam bahasa Indonesia. Berlaku untuk semua ragam, dari resmi sampai santai. (Core Indonesian writing quality and anti AI-slop rules; use for ANY Indonesian-language writing, editing, or translation task.)"
---

# Bahasa Inti: Menulis Bahasa Indonesia tanpa Slop

Aturan di sini membuat tulisan terasa ditulis manusia yang cakap: diksi tepat, kaidah benar, ragam sesuai situasi. Skill kategori (`bahasa-marketing`, `bahasa-website`, `bahasa-seo`, `bahasa-peneliti`) menumpuk di atas skill ini; tidak ada aturan di sini yang gugur ketika skill kategori aktif.

Prinsip kerjanya satu kalimat: **tulisan slop adalah tulisan yang bisa ditulis siapa saja tentang apa saja. Mutu diukur dari seberapa banyak kalimat yang hanya bisa ditulis untuk topik ini, pembaca ini, dan momen ini.**

## Protokol

1. **Sebelum menulis**: putuskan empat hal (bagian "Empat keputusan awal").
2. **Saat menulis**: patuhi Larangan Keras dan Kewajiban.
3. **Sesudah menulis**: jalankan Pemeriksaan Wajib di bagian akhir. Teks yang belum lolos pemeriksaan belum boleh diserahkan; perbaiki dulu, tanpa perlu izin.

Untuk teks lebih dari dua paragraf, baca dulu [references/frasa-terlarang.md](references/frasa-terlarang.md): daftar lengkap frasa yang dilarang beserta gantinya.

## Empat keputusan awal

Tentukan sebelum kalimat pertama; jangan menulis dalam keadaan ragu-ragu ragam.

1. **Pembaca**: siapa persisnya, dan apa yang sudah mereka tahu. "Semua orang" bukan jawaban.
2. **Ragam**: pilih dari lima tingkat formalitas (kerangka Ivan Lanin):

| Ragam | Situasi | Contoh medium |
|---|---|---|
| Beku | Hikmat, tak boleh diubah | Naskah hukum, doa, ijazah |
| Resmi | Formal penuh | Jurnal, laporan, surat resmi, siaran pers |
| Konsultatif | Setengah resmi, transaksi informasi | Email kerja, dokumentasi, artikel berita |
| Santai | Tak resmi, belum akrab | Blog personal, caption merek ramah, siaran komunitas |
| Akrab | Sangat dekat | DM, obrolan komunitas, merek dengan persona teman |

3. **Medium**: panjang, format, dan konvensi tempat teks tayang (caption itu bukan artikel, artikel bukan tombol).
4. **Pesan utama**: satu tulisan, satu pesan. Kalau ada dua pesan besar, itu dua tulisan.

**Benar dan baik adalah dua sumbu berbeda** (Ivan Lanin): *benar* berarti sesuai kaidah; *baik* berarti sesuai situasi. "Berapakah Ibu hendak menjual bayam ini?" itu benar tetapi tidak baik di pasar. Kejar keduanya:

- **Baku tak mesti kaku.** Ragam resmi tetap boleh hidup: kalimat pendek, verba kuat, contoh konkret.
- **Santai bukan sembarangan.** Di ragam santai dan akrab, kata percakapan (*nggak, banget, gimana, sih, dong*) sah. Yang tidak pernah sah di ragam mana pun: salah eja. *Silahkan, sekedar, resiko, praktek, merubah* bukan bahasa santai; itu salah tulis.

## Sepuluh Larangan Keras

Toleransi: nol. Satu pelanggaran berarti kalimatnya ditulis ulang. Daftar lengkap per kategori ada di [references/frasa-terlarang.md](references/frasa-terlarang.md); sepuluh kelompok di bawah adalah intinya.

**L1. Pembuka klise zaman.** "Di era digital yang serba cepat ini…", "Seiring perkembangan teknologi…", "Di zaman modern seperti sekarang…", "Tidak dapat dipungkiri bahwa…", "Dewasa ini…". Pembuka ini bisa menempel pada topik apa pun, artinya tidak mengatakan apa-apa. Mulai dari fakta, angka, klaim, atau adegan yang spesifik untuk topiknya.

**L2. Penutup ritual.** "Sebagai kesimpulan…", "Demikianlah artikel tentang…", "Semoga bermanfaat!", "Jadi, tunggu apa lagi?", "Selamat mencoba!". Tutup dengan hal yang berguna: langkah berikutnya, keputusan, temuan terakhir. Atau berhenti begitu isi selesai.

**L3. Paralelisme negatif.** "Bukan hanya X, tetapi juga Y", "bukan sekadar X, melainkan Y", "X bukan lagi pilihan, melainkan keharusan", "lebih dari sekadar X". Ini pola kalimat AI nomor satu. Pilih sisi yang benar dan tulis itu saja.

**L4. Tripel kosong (rule of three).** "Cepat, mudah, dan terjangkau", "aman, nyaman, dan terpercaya". Tiga kata sifat beruntun hampir selalu berarti tak satu pun dipikirkan. Pilih satu yang paling benar, atau ganti dengan bukti.

**L5. Kosakata slop.** Kata yang melonjak karena mesin, bukan karena penutur: **hiruk pikuk** (penanda ChatGPT paling dikenali di Indonesia; jangan pernah dipakai), *lanskap* (kiasan), *ranah*, *krusial*, *menyelami*, *menggarisbawahi*, *menyoroti* (kiasan), *mulus/tanpa hambatan*, *tangguh* (untuk produk), *garda terdepan*, *mercusuar*, *jalinan/permadani* (kiasan), *membuka potensi*, *bukti nyata komitmen*, *game changer*. Padanannya ada di daftar lengkap.

**L6. Transisi klise beruntun.** *Selain itu, Tidak hanya itu, Namun demikian, Oleh karena itu, Dengan demikian, Di sisi lain, Selanjutnya*: masing-masing maksimal satu kali per teks, dan jangan pernah dua paragraf berturut-turut dibuka kata transisi. Paragraf yang urutannya benar tersambung lewat isi, bukan lewat lem.

**L7. Kalimat meta dan kalimat kosong.** "Artikel ini akan membahas…", "Perlu diketahui bahwa…", "Penting untuk dicatat bahwa…", "Seperti yang kita ketahui…". Semua itu kalimat tentang tulisan, bukan tentang topik. Hapus; langsung katakan isinya. Uji: kalau kalimat dihapus dan tak ada informasi hilang, kalimat itu memang harus dihapus.

**L8. Kabur dan lindung nilai bertumpuk.** "Para ahli menilai…", "sejumlah penelitian menunjukkan…", "banyak orang percaya…" tanpa nama; "mungkin bisa jadi cenderung relatif". Sebut nama dan tahun, beri angka, atau buang klaimnya.

**L9. Menjilat dan bersolek.** "Pertanyaan yang bagus!", "Anda benar sekali!", superlatif tanpa data (*terbaik, no. 1, revolusioner, luar biasa*). Jawab saja; buktikan dengan spesifik, bukan dengan kata seru.

**L10. Slop format.** Judul ber-Title Case ("Dampak Teknologi Dan Digitalisasi"; yang benar hanya kata pertama dan nama diri yang kapital), bold di tiap istilah, bullet untuk isi yang seharusnya prosa, emoji sebagai butir daftar atau hiasan, heading bertingkat untuk teks pendek, garis pemisah sebelum tiap bagian, dan **em dash (—) sebagai tanda baca gaya**. Em dash pengganti koma, titik, titik dua, atau kurung dilarang total; pemakaian sah tanda pisah hanya rentang angka/tempat (2020—2025), itu pun boleh ditulis "sampai". Format mengikuti isi, bukan menghiasinya.

## Kewajiban

Anti-slop bukan cuma menghindari; ini yang harus hadir:

1. **Spesifik di kalimat pertama.** Angka, nama, tempat, kejadian, pertanyaan nyata: sesuatu yang hanya cocok untuk tulisan ini.
2. **Setiap klaim berjangkar.** Klaim tanpa angka/contoh/nama adalah slot kosong: isi atau hapus. "Lebih cepat" menjadi "dari 14 hari jadi 3 hari".
3. **Verba kuat, bukan bungkus nomina.** *Melakukan analisis* menjadi *menganalisis*; *memberikan penjelasan* menjadi *menjelaskan*; *mengalami peningkatan* menjadi *naik*. (Di ragam ilmiah nominalisasi kadang wajar; lihat `bahasa-peneliti`.)
4. **Kalimat aktif sebagai bawaan.** Pasif hanya jika pelaku memang tak penting atau tak diketahui.
5. **Panjang kalimat bervariasi.** Deret kalimat 15–20 kata semua adalah ritme mesin. Selingi kalimat pendek. Sangat pendek juga boleh.
6. **Urutan D-M.** Yang diterangkan dulu: *media sosial* (bukan *sosial media*), *pemasaran digital*, *toko daring*.
7. **Satu istilah untuk satu konsep** sepanjang teks; jangan "produk" berganti "barang" berganti "item".
8. **Satu sapaan.** *Anda* (selalu kapital) atau *kamu* atau *lo*: pilih satu, pertahankan sampai akhir.
9. **Istilah asing**: pakai padanan yang **lazim** (*unduh, daring, tautan, warganet*); istilah asing yang belum terserap ditulis *miring*; jangan pilih padanan kaku yang lebih asing dari aslinya (*tetikus*, *peladen*). Lihat [references/padanan-istilah.md](references/padanan-istilah.md).
10. **Baca nyaring sebelum serah.** Kalimat yang tak akan diucapkan manusia ke manusia harus ditulis ulang.

## Kaidah tata bahasa yang paling sering dilanggar

Ringkasan; rincian dan tabel lengkap di [references/ejaan-eyd.md](references/ejaan-eyd.md) dan [references/kata-baku.md](references/kata-baku.md).

- **`di-` dirangkai** kalau awalan pasif (bisa dibalik jadi *me-*): *diunduh, dibaca*. **`di` dipisah** kalau menyatakan tempat: *di rumah, di mana, di antara*. Berlaku juga untuk *ke*.
- **"di mana / yang mana" bukan kata penghubung.** "Rumah di mana saya tinggal" menjadi "rumah **tempat** saya tinggal"; "situasi yang mana kita harus…" menjadi "situasi **yang** menuntut kita…". Pengganti sesuai makna: *yang, tempat, saat, sehingga*. Atau pecah kalimatnya.
- **Satu kopula.** *Adalah merupakan*: pilih satu, atau hapus dua-duanya. *Adalah* jangan diikuti verba ("tujuannya adalah untuk meningkatkan" menjadi "tujuannya meningkatkan").
- **Pleonasme dibuang:** *agar supaya, naik ke atas, masuk ke dalam, para hadirin, sangat … sekali, saling bantu-membantu, dalam rangka untuk, sejak dari*.
- **Satu konjungsi per hubungan:** *meskipun* tanpa *tetapi*; *karena* tanpa *maka*.
- **Subjek tidak diawali kata depan:** "Bagi peserta dipersilakan…" menjadi "Peserta dipersilakan…"; "Dalam laporan ini menunjukkan…" menjadi "Laporan ini menunjukkan…".
- **Kata baku yang paling sering salah:** silakan (bukan *silahkan*), sekadar, risiko, praktik, analisis, mengubah (bukan *merubah*), izin, aktivitas, memengaruhi, napas, utang, andal, imbau, teknik, jadwal, Anda (kapital). Lengkapnya ±100 pasang di [references/kata-baku.md](references/kata-baku.md).
- **Koma:** wajib sebelum *dan/atau* pada rincian tiga unsur atau lebih; wajib setelah konjungsi antarkalimat (*Namun, … Jadi, …*); haram di antara subjek dan predikat.

## Pemeriksaan Wajib

Jalankan berurutan pada draf final. Ada temuan berarti perbaiki dulu, baru serahkan.

1. **Pindai frasa terlarang** (L1 sampai L9, plus daftar lengkap di references). Satu temuan pun: tulis ulang kalimatnya, bukan sekadar menghapus frasanya.
2. **Pindai kata nonbaku dan "di mana/yang mana"** sebagai penghubung. Cek juga *di-/di* dan *sosial media* yang seharusnya *media sosial*.
3. **Hitung:** kata transisi klise lebih dari satu? Ada em dash (—) di luar rentang angka/tempat? Tripel kata sifat lebih dari satu? Emoji hias? Bold berlebihan? Pangkas.
4. **Uji jangkar:** tiap klaim punya angka, nama, atau contoh? Yang tidak punya: isi atau hapus.
5. **Uji hapus:** hapus kalimat pertama dan terakhir dalam pikiran. Kalau makna utuh, keduanya memang harus dihapus.
6. **Uji baca nyaring:** adakah kalimat yang janggal diucapkan? Tulis ulang seperti menjelaskan ke satu orang nyata.
7. **Uji konsistensi:** satu sapaan, satu istilah per konsep, ragam seragam dari judul sampai tombol/penutup.

## Referensi

| Berkas | Isi | Baca ketika |
|---|---|---|
| [references/frasa-terlarang.md](references/frasa-terlarang.md) | ±100 frasa terlarang per kategori + ganti | Menulis teks >2 paragraf, atau menyunting teks yang dicurigai slop |
| [references/kata-baku.md](references/kata-baku.md) | ±100 pasang baku dan salah tulisnya | Ragam resmi/konsultatif, atau saat ragu satu kata |
| [references/padanan-istilah.md](references/padanan-istilah.md) | Padanan asing ke Indonesia bertingkat lazim/tumbuh/kaku | Teks memuat istilah teknologi/bisnis asing |
| [references/ejaan-eyd.md](references/ejaan-eyd.md) | EYD V: di-/di, kapital, tanda baca, angka, serapan, D-M, kalimat rancu | Ragam resmi, dokumen panjang, atau permintaan penyuntingan ejaan |
